Jan 31, 2011
Paku Di Dinding Hatimu..
Ada seorang pemuda yang sangat pemarah. Dia tidak dapat mengawal kemarahannya walaupun ianya hanya satu masalah kecil sahaja. Pada suatu hari, bapanya telah menghadiahkannya dengan seguni paku. “Untuk apakah paku-paku ini ayah?” tanya pemuda tersebut. “Setiap kali kamu marah, kamu pakulah tembok batu di hadapan rumah kita ini, bagi melepaskan kemarahan mu” jawab ayahnya.
Pada hari yang pertama sahaja, pemuda itu telah memaku sebanyak 37 batang paku pada tembok batu tersebut Selepas beberapa minggu, setelah dia dapat mengurangkan kemarahannya, jumlah paku yang digunakan juga berkurangan. Dia mendapati, adalah lebih mudah mengawal kemarahannya dari memukul paku menembusi tembok batu tersebut. Akhirnya tibalah pada suatu hari, dimana pemuda tersebut tidak marah, walau sekali pun.
Dia pun memberitahu ayahnya mengenai perkara tersebut dengan gembira. Bapanya mengucapkan tahniah dan menyuruh dia mencabut kembali paku itu satu persatu, pada setiap hari yang ia lalui tanpa kemarahan. Hari berganti hari, dan akhirnya dia berjaya mencabut kesemua paku-paku tersebut. Pemuda tersebut lantas memberitahu perkara tersebut kepada bapanya dengan bangganya.
Bapanya lantas memimpin tangannya ke tembok tersebut dan berkata “Kau telah melakukannya dengan baik, anakku, tetapi lihatlah kesan lubang-lubang di tembok batu tersebut, tembok itu tidak akan kelihatan sama lagi seperti sebelumnya. Bila kau menyatakan sesuatu atau melakukan sesuatu ketika marah, ianya akan meninggalkan kesan parut dan luka, sama seperti ini. Kau boleh menikam seseorang dengan pisau dan membunuhnya.
Tetapi ingatlah, tak kesah berapa kali kau memohon maaf dan menyesal atas perbuatam mu, namun lukanya masih tetap ada. Luka di hati adalah lebih pedih dari luka fizikal. Sahabat adalah permata yang sukar dicari. Mereka membuatkan kamu ketawa dan menggalakan mu ke arah kejayaan.
Sahabat juga adalah seorang pendengar, berkongsi suka dan duka dan sentiasa membuka hatinya kepada kita.
“Maafkan saya sekiranya saya pernah meninggalkan kesan berlubang di dinding hati anda.”
Labels:
Kisah Tauladan
KEMISKINAN BUKAN SATU MASALAH
Suatu hari, ayah dari suatu keluarga yang sangat sejahtera membawa anaknya bepergian ke suatu negara yang sebagian besar penduduknya hidup dari hasil pertanian, dengan maksud untuk menunjukkan bagaimana kehidupan orang-orang yang miskin.
Mereka menghabiskan waktu berhari-hari di sebuah tanah pertanian milik keluarga yang terlihat sangat miskin.
Sepulang dari perjalanan tersebut, sang ayah bertanya kepada anaknya,
"Bagaimana perjalanan tadi?"
"Sungguh luar biasa, abi."
"Kamu lihat kan bagaimana kehidupan mereka yang miskin?" tanya sang ayah.
"Iya, abi," jawabnya.
"Jadi, apa yang dapat kamu pelajari dari perjalanan ini?" tanya ayahnya lagi.
Si anak menjawab, "Saya melihat kenyataan bahwa kita mempunyai seekor anjing sedangkan mereka memiliki empat ekor. Kita punya sebuah kolam yang panjangnya hanya sampai ke tengah-tengah taman, sedangkan mereka memiliki sungai kecil yang tak terhingga panjangnya. Kita memasang lampu taman yang dibeli dari luar negeri dan mereka memiliki bintang-bintang di langit untuk menerangi taman mereka.
Beranda rumah kita begitu lebar mencapai halaman depan dan milik mereka seluas horison. Kita tinggal dan hidup di tanah yang sempit sedangkan mereka mempunyai tanah sejauh mata memandang. Kita memiliki pelayan yang melayani setiap kebutuhan kita tetapi mereka melayani diri mereka sendiri. Kita membeli makanan yang akan kita makan, tetapi mereka menanam sendiri. Kita mempunyai dinding indah yang melindungi diri kita dan mereka memiliki teman-teman untuk menjaga kehidupan mereka."
Dengan cerita tersebut, sang ayah tidak dapat berkata apa-apa. Kemudian si anak menambahkan, "Terima kasih, abi, akhirnya aku tahu betapa miskinnya diri kita."
Labels:
Kisah Tauladan
Perbaikilah Amalanmu
Suatu hari, seorang salafushalih terkenal, Fudhail bin Iyadh, bertanya kepada seorang lelaki, "Berapa umurmu?"
"Enam puluh tahun," jawab lelaki itu.
Lalu Fudhail berkata, "Sesungguhnya engkau sudah enam puluh tahun menuju Rabb-mu, dan kini kau hampir sampai."
Laki-laki itu berkata, "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. (Sesungguhnya kita ini milik Allah dan kepadaNya lah kita akan kembali)."
Mendengar ucapan lelaki itu, Fudhail kembali bertanya, "Tahukah engkau bagaimana tafsirnya?"
"Tafsirkanlah kepada kami, wahai Abu Ali (panggilan Fudhail)," pinta lelaki itu.
"Jika engkau mengatakan, "Inna lillahi," berarti engkau mengikrarkan bahwa engkau adalah hamba Allah dan kepada Allah engkau akan kembali. Barangsiapa yang mengetahui bahwa dia adalah hamba Allah dan kepada Allah lah dia akan kembali, maka ketahuilah bahwa ia akan mati. Dan ketahuilah, barangsiapa yang akan mati, maka ia akan ditanya. Dan barangsiapa yang mengetahui bahwa ia akan ditanya, maka bersiap-siaplah untuk menjawabnya."
"Lalu bagaimana cara kami mempersiapkannya," tanya lelaki itu lagi.
"Penuhilah," jawab Fudhail bin Iyadh.
"Apa yang harus saya penuhi?" tanyanya.
Fudhail menjawab, "Perbaikilah amalan-amalanmu yang akan datang, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu di masa lalu dan yang akan datang. Tapi jika engkau memperjelek amalan-amalanmu yang akan datang, niscaya Allah akan menyiksamu lantaran dosa-dosamu yang telah engkau perbuat di masa lalu dan yang akan datang."
Begitulah nasihat Fudhail bin Iyadh begitu jelas. Maka, sekecil apa pun kesempatan yang Allah berikan untuk berbuat baik, maka harus kita lakukan. Kita harus menabung amal shalih. Melakukan hal-hal yang bermanfaat, dan membuang jauh apa yang tidak berguna. Selagi umur masih ada. Selagi waktu masih tersedia. Seringkali kesempatan itu tidak datang untuk yang kedua kali.
Labels:
Kisah Tauladan
PERMOHONAN SI KAYA dan SI MISKIN
Nabi Musa AS memiliki ummat yang jumlahnya sangat banyak dan umur mereka panjang-panjang. Mereka ada yang kaya dan juga yang miskin.
Suatu hari ada yang seorang yang miskin datang menghadap Nabi Musa AS. Ia begitu miskinnya, pakaiannya compang-camping dan sangat lusuh berdebu. Si miskin itu kemudian berkata kepada Baginda Musa AS, "Ya Nabiyullah, Kalamullah, tolong sampaikan kepada ALLAH SWT permohonanku ini agar ALLAH SWT menjadikan aku seorang yang kaya. Nabi Musa AS tersenyum dan berkata kepada orang itu, "saudaraku, banyak-banyaklah kamu bersyukur kepada ALLAH SWT", si miskin itu begitu terkejut dan kesal, lalu ia berkata, "bagaimana aku mau banyak bersyukur, aku makan pun jarang dan pakaian yang aku gunakan pun hanya satu lembar ini saja!". Akhirnya si miskin itu pulang tanpa mendapatkan apa yang diinginkannya.
Beberapa waktu kemudian seorang kaya datang menghadap Nabi Musa AS. Orang tersebut bersih badannya juga rapi pakaiannya. Ia berkata kepada Nabi Musa AS, "wahai Nabiyullah, tolong sampaikan kepada kepada ALLAH SWT permohonanku ini agar dijadikannya aku ini seorang yang miskin, terkadang aku merasa terganggu dengan hartaku ini", Nabi Musa AS pun tersenyum, lalu ia berkata, "wahai saudaraku, bersyukurlah engkau kepada ALLAH SWT",
"Yaa Nabiyullah, bagaiman aku tidak bersyukur kepada ALLAH SWT? ALLAH SWT telah memberiku mata yang dengannya aku dapat melihat, ALLAH SWT telah memberiku tangan yang dengannya aku dapat bekerja dan telah memberiku kaki yang dengannya aku dapat berjalan, bagaimana mungkin aku tidak mensyukurinya", jawab si kaya itu.
Akhirnya si kaya itu pulang ke rumahnya. Kemudian terjadi, si kaya itu semakin ALLAH SWT tambah kekayaannya karena ia selalu bersyukur . Dan si miskin menjadi bertambah miskin. ALLAH SWT mengambil semua kenikmatan-Nya sehingga si miskin itu tidak memiliki selembar pakaianpun yang melekat di tubuhnya. Ini semua karena ia tidak mau bersyukur kepada ALLAH SWT.
Labels:
Kisah Tauladan
KISAH 'KASIH SAYANG', 'KEJAYAAN' dan 'KEKAYAAN'
Seorang wanita sedang keluar dari rumahnya apabila dia terlihat tiga org lelaki tua berjanggut panjang dan berwarna putih sedang duduk dihalaman rumahnya.Dia tidak kenal akan mereka. Wanita itu bertanya ,"Saya tidak fikir saya mengenali anda semua,tetapi saya pasti awak semua mesti sedang lapar. Silalah masuk ke rumah saya dan makan sesuatu." "Adakah suami awak ada dirumah?", mereka bertanya. "Tidak", wanita itu berkata." Suami saya telah keluar." "Jadi, kami tidak akan masuk", mereka menjawab.
Sewaktu suaminya pulang ke rumah pada petang itu, wanita itu pun memberitahunya kejadian tersebut. "Pergi beritahu mereka bahawa saya telah balik dan menjemput mereka masuk ke dalam sekarang! Wanita itu keluar dan menjemput ketiga- tiga lelaki tua itu masuk ke dalam.
"Kami tidak akan masuk ke dalam rumah bersama-sama" mereka menjawab. "Mengapa begitu?" wanita itu ingin tahu.Salah seorang dari lelaki tua itu pun menerangkan: "Namanya ialah Kekayaan," Dia berkat sambil menunjuk ke arah kawan yang seorang lagi," Dia adalah Kejayaan, dan saya adalah Kasih Sayang."
Dia menyambung lagi," Sekarang masuklah semula ke dalam rumah dan berbincanglah dengan suami awak, siapakah di antara kami bertiga yang kamu ingin jemput ke dalam rumah. "Wanita itu pun masuk semula ke dalam dan memberitahu suaminya perkara tersebut. Suaminya berasa sungguh gembira.
"Bagusnya!!" dia berkata."Kalau macam tu jemputlah Kekayaan masuk. Biar dia masuk dan mengisi rumah kita dengan Kekayaan!"Isterinya tidak bersetuju. "Abang, kenapa pula kita tidak menjemput Kejayaan?"Kebetulan, menantu perempuan mereka juga sedang mendengar perbualan itu dari satu sudut rumah yang lain. Dia lalu menyampuk dan memberikan pandangannya: "Bukankah lebih baik sekiranya kita menjemput Kasih Sayang? Rumah kita ini pasti akan diselubungi dengan Kasih Sayang!" "Biarlah kita mengikut nasihat menantu kita tu," kata suami itu kepada isterinya. "Keluar dan jemputlah Kasih Sayang sebagai tetamu kita."
Wanita itu pun keluar dan bertanya kepada tiga lelaki tua, "Yang mana satu di antara kamu adalah Kasih Sayang? Silalah masuk menjadi tetamu kami." Kasih Sayang bangun dan mula berjalan ke arah rumah. Kedua-dua lelaki yang lain juga bangun dan megikutinya. Terperanjat, wanita itu pun bertanya kepada Kekayaan dan Kejayaan: "Saya cuma menjemput Kasih Sayang, mengapa kamu juga ikut sekali?"
Mereka semua menjawab:"Jika awak menjemput samada Kekayaan atau Kejayaan yang lain akan tunggu diluar, tetapi oleh kerana awak telah menjemput Kasih Sayang, kemana-mana sahaja dia pergi, kami akan pergi bersamanya.
Dimana ada Kasih Sayang, disitu juga ada Kekayaan dan Kejayaan!"
Labels:
Kisah Tauladan
KISAH UNTA MEMATAHKAN RANCANGAN ABU JAHAL UNTUK MEMBUNUH RASULULLAH SAW
Setelah pelbagai usaha oleh kaum Quraisy untuk menyekat dan menghapuskan penyebaran agama Islam menemui kegagalan, maka Abu Jahal semakin benci terhadap Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Kebencian Abu Jahal ini tidak ada tolok bandingnya, malah melebihi kebencian Abu Lahab terhadap Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.
Melihatkan agama Islam semakin tersebar, Abu Jahal pun berkata kepada kaum Quraisy di dalam suatu perhimpunan, "Hai kaumku! Janganlah sekali-kali membiarkan Muhammad menyebarkan ajaran barunya dengan sesuka hatinya. Ini adalah kerana dia telah menghina agama nenek moyang kita, dia mencela tuhan yang kita sembah. Demi Tuhan, aku berjanji kepada kamu sekalian, bahwa esok aku akan membawa batu ke Masjidil Haram untuk dibalingkan ke kepala Muhammad ketika dia sujud. Selepas itu, terserahlah kepada kamu semua samada mahu menyerahkan aku kepada keluarganya atau kamu membela aku dari ancaman kaum kerabatnya. Biarlah orang-orang Bani Hasyim bertindak apa yang mereka sukai."
Tatkala mendengar jaminan daripada Abu Jahal, maka orang ramai yang menghadiri perhimpunan itu berkata secara serentak kepadanya, "Demi Tuhan, kami tidak akan sekali-kali menyerahkan engkau kepada keluarga Muhammad. Teruskan niatmu."
Orang ramai yang menghadiri perhimpunan itu merasa bangga mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Abu Jahal bahwa dia akan menghapuskan Muhammad kerana jika Abu Jahal berjaya menghapuskan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam bererti akan terhapuslah segala keresahan dan kesusahan mereka selama ini yang disebabkan oleh kegiatan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyebarkan agama Islam di kalangan mereka.
Dalam pada itu, terdapat juga para hadirin di situ telah mengira-ngira perbelanjaan untuk mengadakan pesta sekiranya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam berjaya dihapuskan. Pada pandangan mereka adalah mudah untuk membunuh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam yang dikasihi oleh Tuhan Yang Maha Esa serta sekalian penghuni langit. Padahal Allah tidak akan sekali-kali membiarkan kekasih-Nya diancam dan diperlakukan seperti binatang.
Dengan perasaan bangga, keesokan harinya di sebelah pagi, Abu Jahal pun terus pergi ke Kaabah iaitu tempat biasa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam bersembahyang. Dengan langkahnya seperti seorang satria, dia berjalan dengan membawa seketul batu besar di tangan sambil diiringi oleh beberapa orang Quraisy yang rapat dengannya. Tujuan dia mengajak kawan-kawannya ialah untuk menyaksikan bagaimana nanti dia akan menghempapkan batu itu di atas kepala Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.
Sepanjang perjalanan itu dia membayangkan bagaimana keadaan Nabi Muhammad nanti setelah kepalanya dihentak oleh batu itu. Dia tersenyum sendirian apabila membayangkan kepala Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam pecah dan tidak bergerak lagi. Dan juga membayangkan bagaimana kaum Quraisy akanmenyambutnya sebagai pahlawan yang telah berjaya membunuh musuh nombor satu mereka.
Sebaik saja Abu Jahal tiba di perkarangan Masjidil Haram, dilihatnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam baru saja sampai dan hendak mengerjakan sembahyang. Dalam pada itu, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak menyedari akan kehadiran Abu Jahal dan kawan-kawannya di situ. Baginda tidak pernah terfikir apa yang hendak dilakukan oleh Abu Jahal terhadap dirinya pada hari itu.
Sebaik-baik saja Abu Jahal melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah mula bersembahyang, dia berjalan perlahan-lahan dari arah belakang menuju ke arah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Abu Jahal melangkah dengan berhati-hati, setiap pergerakannya dijaga, takut disadari oleh baginda.
Dari jauh kawan-kawan Abu Jahal memerhatikan dengan perasaan cemas bercampur gembira. Dalam hati mereka berkata, "Kali ini akan musnahlah engkau hai Muhammad."
Sebaik saja Abu Jahal hendak menghampiri Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dan menghayun batu yang dipegangnya itu, tiba-tiba secepat kilat dia berundur ke belakang. Batu yang dipegangnya juga jatuh ke tanah. Mukanya yang tadi merah kini menjadi pucat lesi seolah-olah tiada berdarah lagi. Rakan-rakannya yang amat ghairah untuk melihat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam terbunuh, tercengang dan saling berpandangan.
Kaki Abu Jahal seolah-olah terpaku ke bumi. Dia tidak dapat melangkahkan kaki walaupun setapak. Melihatkan keadaan itu, rakan-rakannya segera menarik Abu Jahal dari situ sebelum disadari oleh baginda. Abu Jahal masih terpinga-pinga dengan kejadian yang dialaminya.
Sebaik saja dia sedar dari kejutan peristiwa tadi, rakan-rakannya tidak sabar untuk mengetahui apakah sebenarnya yang telah berlaku. Kawannya bertanya, "Apakah sebenarnya yang terjadi kepada engkau, Abu Jahal? Mengapa engkau tidak menghempapkan batu itu ke kepala Muhammad ketika dia sedang sujud tadi?"
Akan tetapi Abu Jahal tetap membisu, rakan-rakannya semakin keheranan. Abu Jahal yang mereka kenali selama ini seorang yang lantang berpidato dan menyumpah seranah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, tiba-tiba saja diam membisu.
Dalam pada itu, Abu Jahal masih terbayang-bayang akan kejadian yang baru menimpanya tadi. Dia seolah-olah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, malah dia sendiri tidak menyangka perkara yang sama akan berulang menimpa dirinya.
Perkara yang sama pernah menimpa Abu Jahal sewaktu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pergi ke rumah Abu Jahal apabila seorang Nasrani mengadu kepada baginda bahwa Abu Jahal telah merampas hartanya. Pada masa itu Abu Jahal tidak berani berkata apa-apa pada baginda apabila dia terpandang dua ekor harimau menjadi pengawal peribadi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.
Kemudian setelah habis mereka menghujani Abu Jahal dengan pelbagai soalan, maka Abu Jahal pun mula bersuara, "Wahai sahabatku! Untuk pengetahuan kamu semua, sebaik saja aku menghampiri Muhammad hendak menghempapkan batu itu ke kepalanya, tiba-tiba muncul seekor unta yang besar hendak menendang aku. Aku amat terkejut kerana belum pernah melihat unta yang sebegitu besar seumur hidupku. Sekiranya aku teruskan niatku, nescaya akan matilah aku ditendang oleh unta itu, sebab itulah aku berundur dan membatalkan niatku."
Rakan-rakan Abu Jahal berasa amat kecewa mendengar penjelasan itu, mereka tidak menyangka orang yang selama ini gagah dan beria-ia hendak membunuh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam hanya tinggal kata-kata saja. Orang yang selama ini diharapkan boleh menghapuskan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dan pengaruhnya hanya berupaya bercakap seperti tin kosong saja.
Setelah mendengar penjelasan dari Abu Jahal yang tidak memuaskan hati itu, maka mereka pun berkata kepada Abu Jahal dengan perasaan keheranan, "Ya Abu Jahal, semasa kau menghampiri Muhammad tadi, kami memerhatikan engkau dari jauh tetapi kai tidak napak akan unta yang engkau katakan itu. Malah bayangnya pun kami tidak nampak."
Rakan-rakan Abu Jahal mula sangsi dengan segala keterangan yang diberikan oleh Abu Jahal. Mereka menyangka Abu Jahal sentiasa mereka-reka cerita yang karut itu, mereka mula hilang kepercayaan terhadapnya. Akhirnya segala kata-kata Abu Jahal mereka tidak berapa endahkan lagi.
Jan 30, 2011
RAHSIA KHUSYUK DALAM SEMBAHYANG
Seorang ahli ibadah bernama Isam bin Yusuf, dia sangat warak dan sangat khusyuk solatnya. Namun dia selalu khuatir kalau-kalau ibadahnya kurang khusyuk dan selalu bertanya kepada orang yang dianggapnya lebih ibadahnya, demi untuk memperbaiki dirinya yang selalu dirasakan kurang khusyuk.
Pada suatu hari, Isam menghadiri majlis seorang abid bernama Hatim Al-Isam dan bertanya : "Wahai Aba Abdurrahman, bagaimanakah caranya tuan solat?" Hatim berkata : "Apabila masuk waktu solat aku berwudhu' zahir dan batin."
Isam bertanya, "Bagaimana wudhu' zahir dan batin itu?" Hatim berkata, "Wudhu' zahir sebagaimana biasa, iaitu membasuh semua anggota wudhu' dengan air. Sementara wudhu' batin ialah membasuh anggota dengan tujuh perkara :-
1. Bertaubat
2. Menyesali dosa yang dilakukan
3. Tidak tergila-gilakan dunia
4. Tidak mencari / mengharap pujian orang (riya')
5. Tinggalkan sifat berbangga
6. Tinggalkan sifat khianat dan menipu
7. Meninggalkan sifat dengki
Seterusnya Hatim berkata, "Kemudian aku pergi ke masjid, aku kemaskan semua anggotaku dan menghadap kiblat. Aku berdiri dengan penuh kewaspadaan dan aku bayangkan Allah s.w.t. ada di hadapanku, syurga di sebelah kananku, neraka di sebelah kiriku, malaikat maut berada di belakangku, dan aku bayangkan pula bahawa aku seolah-olah berdiri di atas titian 'Sirratul Mustaqim' dan aku menganggap bahawa solatku kali ini adalah solat terakhirku, kemudian aku berniat dan bertakbir dengan baik.
Setiap bacaan dan doa dalam solat kufaham maknanya, kemudian aku ruku' dan sujud dengan tawadhu', aku bertasyahhud dengan penuh pengharapan dan aku memberi salam dengan ikhlas. Beginilah aku bersolat selama 30 tahun." Apabila Isam mendengar, menangislah dia kerana membayangkan ibadahnya yang kurang baik bila dibandingkan dengan Hatim.
Labels:
Perkongsian Ilmu
Subscribe to:
Posts (Atom)






